SUMENEP// BBG- Ikatan Mahasiswa Darurrahman (IMADA) kembali menyelenggarakan kegiatan keilmuan dan spiritual bertajuk “Samalem Sareng Abuya” yang berlangsung selama dua hari, pada 28–29 Januari 2026, bertempat di kawasan Batu, Malang.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda penting IMADA dalam rangka merawat tradisi keilmuan pesantren sekaligus mempererat hubungan batin antara guru dan para mahasiswa Pondok Pesantren Darurrahman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan “Samalem Sareng Abuya” diikuti oleh mahasiswa Darurrahman yang tergabung dalam IMADA. Selama pelaksanaan kegiatan, peserta tidak hanya mengikuti rangkaian kebersamaan dan rihlah, tetapi juga menghatamkan satu kitab secara penuh, sebagai bentuk kesungguhan dalam menjaga tradisi ngaji yang menjadi ruh utama pesantren.
Pelaksanaan kegiatan ini dilandasi oleh kesadaran bahwa mahasiswa pesantren, meskipun telah memasuki dunia akademik perguruan tinggi, tetap memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga adab thalabul ‘ilmi, khususnya dalam hal ta’dzim kepada guru dan keberlanjutan sanad keilmuan. Oleh karena itu, “Samalem Sareng Abuya” dirancang sebagai ruang temu antara rihlah, tadabbur alam, dan penguatan tradisi keilmuan.
Pengasuh Pondok Pesantren Darurrahman, KH. Abuya Ach. Fadlan Masykuri, dalam sambutan pelepasan kegiatan menyampaikan doa dan pesan yang sarat makna. Beliau menegaskan bahwa kegiatan semacam ini merupakan amalan yang telah lama menjadi tradisi para ulama terdahulu.
“Jazakumullahu khairan katsīran. Semoga dari kegiatan ini kita semua mendapatkan keberkahan. Insyaallah, kegiatan seperti ini merupakan salah satu amalan yang sering dilaksanakan oleh para ulama besar, yakni melakukan perjalanan untuk menikmati keindahan ciptaan Allah yang disertai dengan pembacaan kitab-kitab dan kegiatan ngaji,” tutur beliau.
Menurut Abuya, rihlah yang disertai dengan ngaji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan ruhani yang mampu menumbuhkan rasa syukur, memperdalam makna ilmu, serta memperkuat hubungan batin antara murid dan guru.
Sementara itu, Hurry, selaku Koordinator IMADA, menyampaikan bahwa kegiatan “Samalem Sareng Abuya” memiliki nilai yang sangat istimewa bagi para mahasiswa. Ia menilai kegiatan ini bukan hanya program organisasi, melainkan juga ruang kerinduan santri terhadap suasana kebersamaan dengan guru.
“Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang sangat saya banggakan karena memiliki nilai yang cukup mulia. Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa banyak di antara kita yang sangat merindukan suasana bersama guru, suasana ngaji, dan suasana khas pesantren,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa melalui kegiatan ini, IMADA ingin menunjukkan bahwa kesibukan akademik tidak menjadi alasan untuk menjauh dari nilai-nilai pesantren, melainkan harus menjadi sarana untuk semakin memperkuat jati diri santri.
Apresiasi juga disampaikan oleh salah satu pembina IMADA, Kak Ipung, yang menilai kegiatan tersebut sebagai cerminan kesadaran kolektif mahasiswa dalam menjaga keseimbangan antara ilmu akademik dan ilmu keagamaan.
“Saya sangat bangga kepada adik-adik IMADA. Di tengah fokus mereka dalam menjalani perkuliahan, mereka masih memikirkan bagaimana menyediakan waktu khusus untuk mengaji dan mendekatkan diri kepada seorang murabbi. Ini adalah sikap yang sangat berharga dan patut dijaga,” tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa dalam menjaga kedekatan dengan guru akan sangat berpengaruh terhadap keberkahan ilmu yang mereka pelajari, baik di lingkungan kampus maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui terselenggaranya kegiatan “Samalem Sareng Abuya”, IMADA berharap tradisi keilmuan pesantren, nilai adab, serta keberkahan sanad keilmuan dapat terus terjaga dan diwariskan. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi penguat identitas mahasiswa Darurrahman sebagai santri yang tidak tercerabut dari akar keilmuannya, meskipun berada di ruang dan
dinamika akademik modern.


















