SUMENEP, bbgnews — Program bantuan pengelolaan limbah yang digulirkan pada tahun 2024 di Kabupaten Sumenep kini menjadi sorotan warga.
Proyek yang disebut-sebut tersebar di tiga titik, yakni Kecamatan Ambunten, Pasongsongan, dan Rubaru, diduga menyisakan sejumlah persoalan, mulai dari minimnya informasi publik hingga keberlanjutan program.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu proyek yang ramai diperbincangkan berada di Kecamatan Pasongsongan. Berdasarkan keterangan warga sekitar, bangunan yang diperuntukkan sebagai fasilitas pengelolaan limbah tersebut disebut tidak dilengkapi prasasti atau papan informasi proyek.
“Setahu kami ini proyek bantuan tahun 2024. Tapi sampai sekarang tidak ada prasasti atau papan nama yang menjelaskan anggaran maupun sumber dananya,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Ketiadaan prasasti dinilai menimbulkan tanda tanya terkait transparansi pelaksanaan program. Warga berharap ada kejelasan mengenai detail proyek, termasuk besaran anggaran dan instansi pelaksana.
Tak hanya soal bangunan, warga juga menyoroti bantuan ternak sapi yang menjadi bagian dari program tersebut. Menurut informasi yang dihimpun dari masyarakat, awalnya terdapat 11 ekor sapi yang disalurkan. Namun kini jumlahnya disebut tinggal 4 ekor.
“Dulu informasinya ada 11 sapi, sekarang tinggal 4. Kami tidak tahu ke mana sisanya dan bagaimana pengelolaannya,” ungkap warga lainnya.
Kondisi ini memunculkan dugaan lemahnya pengawasan dan pengelolaan bantuan. Warga berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi serta memberikan penjelasan terbuka kepada masyarakat agar tidak menimbulkan spekulasi berkepanjangan.
Program bantuan pengelolaan limbah sejatinya bertujuan meningkatkan kebersihan lingkungan sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun tanpa transparansi dan pengawasan yang optimal, manfaat program dikhawatirkan tidak berjalan maksimal.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait.


















